I Like You The Best
You've stumbled in my blog,so what to do ? | Dashboard | +Follow
seutas benang merah
Monday, 16 April 2012 | 10:14 | 0 comments

Jaga dirimu baik-baik. Aku akan pergi jauh. Jagalah seutas benang merah yang

aku berikan. Genggam dengan erat. Karena satu diantara kita tidak akan

pernah membiarkan benang merah ini terputus. Sejauh apa pun jarak.



Itu katamu. Penipu.



Kau tahu kenapa cinta itu buta? Karena cinta tidak pernah mengenal jarak,

 ruang dan waktu. Kau tahu kenapa aku membiarkanmu pergi jauh tapi tidak

membiarkan cinta ini terhenti begitu saja? Karena aku percaya cinta itu buta.



Itu keyakinanku. Pemimpi.



Saat itu kau memberikan seutas benang merah. Kau mengikat salah satu

ujungnya dengan lembut di jari manisku, lalu mengikat ujung yang lain

di jari manismu. Benang merah yang tipis ini adalah penghubung,

perlambang cinta diantara kita. ketika ragamu terpisah jauh dariku,

tapi tidak hati kita.



Hari itu pun tiba, hari ketika pesawat mengantarkanmu menuju pulau

yang berbeda, waktu yang berbeda dan jarak. Ya, jarak. Tapi apakah

seutas benang merah ini lunglai? Tidak. Aku merasakan suatu tarikan.

 Karena kita sama-sama menggenggamnya erat.



Ada saat-saat dimana aku merasakan hentakan seutas benang merah ini,

ketika kau menjadi pecandu rindu, sementara aku terkadang ingin

melepaskannya, karena aku adalah perampas bebas. Perampas bebas,

tapi aku memberikan seutuh hatiku, percayalah...



Ada saat dimana aku yang menjadi pecandu rindu. Aku akan

menghentakkan seutas benang merah itu begitu keras. Bahkan

hingga kau tersentak berontak, berteriak bahwa aku berubah terlalu

jauh, tidak sedewasa yang kau inginkan. Aku tak kalah berteriak.

Ini karena aku terlalu merindukanmu! Semakin kuat kita berteriak,

seutas benang merah itu hanya bisa lunglai.



Hari yang tak pernah kita harapkan pun terjadi. Ketika ego, jenuh,

dan pemusnah janji mengangkat arti. Aku dengan sebulat ego tapi

percayalah... aku masih menggenggam erat seutas benang merah ini.

Tapi sudah lama, aku tidak merasakan tarikan seutas benang merah.

 Apa kau sudah bosan menjadi pecandu rindu? Seutas benang merah

yang sangat lunglai menjawabnya. Ketika aku menariknya, aku

mendapatkan ujung satunya... kau telah memotong seutas benang

merah yang ada di jari manismu... penipu.

|
About

Facebook | Twitter
!CintaQu Hanya PadaMu Ya Allah !

Scream here



Navigation

About Links Entries
The Webmaster



Name: Edly Zulkarnaen
Known as: Edly Naen
Age: 18 years young
Stat: Kelantan
Country: Malaysia
Language: Malay and English
Affies&Linkies


Friends | Friends | Friends | Friends | Friends | Friends
seutas benang merah
Monday, 16 April 2012 | 10:14 | 0 comments

Jaga dirimu baik-baik. Aku akan pergi jauh. Jagalah seutas benang merah yang

aku berikan. Genggam dengan erat. Karena satu diantara kita tidak akan

pernah membiarkan benang merah ini terputus. Sejauh apa pun jarak.



Itu katamu. Penipu.



Kau tahu kenapa cinta itu buta? Karena cinta tidak pernah mengenal jarak,

 ruang dan waktu. Kau tahu kenapa aku membiarkanmu pergi jauh tapi tidak

membiarkan cinta ini terhenti begitu saja? Karena aku percaya cinta itu buta.



Itu keyakinanku. Pemimpi.



Saat itu kau memberikan seutas benang merah. Kau mengikat salah satu

ujungnya dengan lembut di jari manisku, lalu mengikat ujung yang lain

di jari manismu. Benang merah yang tipis ini adalah penghubung,

perlambang cinta diantara kita. ketika ragamu terpisah jauh dariku,

tapi tidak hati kita.



Hari itu pun tiba, hari ketika pesawat mengantarkanmu menuju pulau

yang berbeda, waktu yang berbeda dan jarak. Ya, jarak. Tapi apakah

seutas benang merah ini lunglai? Tidak. Aku merasakan suatu tarikan.

 Karena kita sama-sama menggenggamnya erat.



Ada saat-saat dimana aku merasakan hentakan seutas benang merah ini,

ketika kau menjadi pecandu rindu, sementara aku terkadang ingin

melepaskannya, karena aku adalah perampas bebas. Perampas bebas,

tapi aku memberikan seutuh hatiku, percayalah...



Ada saat dimana aku yang menjadi pecandu rindu. Aku akan

menghentakkan seutas benang merah itu begitu keras. Bahkan

hingga kau tersentak berontak, berteriak bahwa aku berubah terlalu

jauh, tidak sedewasa yang kau inginkan. Aku tak kalah berteriak.

Ini karena aku terlalu merindukanmu! Semakin kuat kita berteriak,

seutas benang merah itu hanya bisa lunglai.



Hari yang tak pernah kita harapkan pun terjadi. Ketika ego, jenuh,

dan pemusnah janji mengangkat arti. Aku dengan sebulat ego tapi

percayalah... aku masih menggenggam erat seutas benang merah ini.

Tapi sudah lama, aku tidak merasakan tarikan seutas benang merah.

 Apa kau sudah bosan menjadi pecandu rindu? Seutas benang merah

yang sangat lunglai menjawabnya. Ketika aku menariknya, aku

mendapatkan ujung satunya... kau telah memotong seutas benang

merah yang ada di jari manismu... penipu.

Older Post | Newer Post

Credits

Template by : Alia L.Joe's
Tutorial : Jaja
Background : Encik Google